Rabu, 18 Mei 2011

Kemiskinan Sebuah Konsep atau Realitas

Oleh: Sumiman Udu 
\Ada yang ambigu dalam pemikiran masyarakat Wakatobi hari ini, makna kata 'kemiskinan' menjadi kabur. Batasan kemiskinan menjadi tidak ada. Dalam majalah "Biografi Politik for Democracy and Change" dikemukakan bahwa tidak ada kemiskinan di Wakatobi menjadi suatu yang mengguncang pemikiran dan pemahaman anak-anak Wakatobi tentang kemiskinan.

Dalam acara bedah buku 'empat' buku Hugua 'Miskin Kaya adalah pilihan, Surgaisme Landasan tata dunia baru, dan Bigrafi politik, serta lelaki itu Hugua di Lantai 4 Raktorat awal Januari 2011, telah melahirkan dampak besar dalam pemikiran atau kesadaran khususnya kesadaran masyarakat Wakatobi. Salah satu tulisan yang paling mengguncang pemikiran itu adalah Sub Judul yang Tidak ada kemiskinan di Wakatobi (hal,128). Berbagai kalangan membahas masalah ini, ahli ekonomi, budaya, sejarah dan para politikus mendiskusikan ini.

Tetapi ketika kata 'kemiskinan' itu tidak mendapatkan batasan yang jelas, maka kata itu tidak akan dapat dipahami secara tepat. Karena pemahaman seseorang tentang kemiskinan itu dapat dipahami jika dapat diukur melalui empat hal yaitu, makna kata, makna simbol, realitas empiris, dan ekspresi masyarakat setelah mendengarkan kata, simbol dan realitas empiris tersebut.

Oleh karena itu, 'kemiskinan' harus diberikan batasan yang jelas sebagai kerangka pikir agar tidak meressahkan masyarakat. Dari adanya batasan yang jelas tentang konsep kemiskinan, akan memberikan ruang interprestasi yang tepat terhadap makna kata itu, tetapi jika batasan itu tidak ada, maka kesadaran atau subjeltifitas akan muncul di setiap kepala orang-orang yang mendengarkan batasan itu. dan secara akademis, inilah ruang untuk membangun kesadaran epistemologi.

kedua, 'kemiskinan' itu adalah dapat dimaknai sebagai simbol terhadap kesuksesan suatu masyarakat dalam mensejahterakan masyarakatnya. Jika judul, "Tidak ada Kemiskinan di Wakatobi" dianggap sebagai sebuah bahasa simbolik atas kesuksesan kerja pemerintah di Wakatobi, maka 'kata kemiskinan dapat dimaknai sebagai suatu simbol yang sangat berpengaruh dalam pemikiran anak-anak Wakatobi. Karena kalimat itu, merupakan kalimat yang dapat dimaknai sebagai ruang untuk tidak melihat realitas sesungguhnya yang dialami oleh masyarakat Wakatobi hari ini.

Apa benar, orang-orang Wakatobi sudah tidak ada yang miskin? Pertanyaan ini, sangat penting untuk melihat realitas empiris yang ada di dalam masyarakat. Katakan saja, bahwa kalau semua anak-anak masyarakat Wakatobi sudah dapat melanjutkan pendidikan, sudah dapat berobat dengan layak, sudah dapat makan dengan kebutuhan dasar gizi? Sudah menggunakan lampu penerangan dengan menggunakan listrik? Sudah dapat minum air yang sehat?

Saya kira, realitas empiris tentang kemiskinan di Wakatobi yang akan menjawab pertanyaan dan pernyataan bahwa "Tidak ada kemiskinan di Wakatobi". Berdasarkan pemantauan kami, masyarakat desa Longa ingin mendapatkan pelayanan lampu listrik, tetapi mereka tidak mampu membayar uang muka yang lima juta rupiah / meteran. Tentu keinginan yang tidak kesampaian ini, adalah pilihan atau kebahagiaan? jawabannya adalah nanti pada masyarakat.

Melihat realitas, empirs tentant 'kemiskinan' ini, serta respon masyarakat tentang itu, membuat kita dapat memahami 'kemiskinan' itu secara nyata. Bahwa kemiskinan itu hanya sebatas konsep atau realitas, paling tidak harus dapat dipahami dalam tataran berpikir yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan.

Di sini, masayarakat Wakatobi, harus mampu memahami kata 'kemiskinan' tersebut, dalam kesadaran yang mampu dipertanggungjawabkan secara akademis maupun secara sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar